Fenomena loneliness di tengah Generasi Z
Fenomena loneliness di tengah Generasi Z
Generasi Z yang lahir dan bertumbuh di tengah perkembangan teknologi, tak dapat dipungkiri, merasakan berbagai kemudahan dengan adanya teknologi dan maraknya media sosial. Namun, berkembangnya teknologi tak bisa dipungkiri berdampak pada kesehatan mental penggunanya. Pada tahun 2017, terdapat sebuah studi yang dipublikasikan di Journal of Preventive Medicine Amerika, mensurvei 7.000 orang yang berusia 19-32 tahun dan ditemukan bahwa mereka yang menghabiskan lebih banyak waktu di media sosial, memiliki risiko dua kali lipat untuk mengalami keterkucilan sosial, yang meliputi rendahnya rasa sosial, kurang hubungan dengan sesama dan menjalani hubungan dengan berarti. Dari studi tersebut dapat dilihat bagaimana teknologi ini bisa menimbulkan fenomena loneliness (kesepian).
Berdasarkan paparan permasalahan di atas, media sosial yang dianggap bisa mendekatkan yang jauh justru malah bisa membuat orang kesepian atau merasa terisolasi. Jenny de Jong (1987) pernah mendefinisikan kesepian sebagai situasi yang dialami oleh individu dimana terjadi kekurangan kualitas hubungan tertentu yang tidak menyenangkan atau tidak dapat diterima. Tak bisa dipungkiri bahwa kualitas hubungan emosional memang kurang terjaring melalui media sosial. Apalagi mudahnya kehidupan seseorang terekspos di media sosial membuat kita cenderung membanding-bandingkan kehidupan kita dengan kehidupan orang yang terlihat bahagia di sosmed. Tanpa kita sadari, diri kita merasa kecil dan lebih rendah daripada orang lain sehingga menimbulkan rasa kesepian.
Hasil survey yang dilakukan Rubenstein & Shaver (dalam Bhrem, 2002) menyimpulkan beberapa reaksi positif terhadap kesepian, yaitu belajar, menulis, mendengarkan musik, menonton, pergi ke bioskop, menelepon teman, membaca, dan pergi bersama teman-temannya. Kemudian reaksi yang negatif, seperti makan berlebihan, tidur berlebihan, pasif tidak mau melakukan apapun, mabuk, dan juga perilaku menyakiti diri sendiri seperti self-harm.
Berdasarkan survey di atas, fenomena loneliness ini ternyata dapat secara fatal mengganggu kesehatan mental kita, jika berlanjut ke sisi negatif maka bisa membawa individu kepada mental illness yang lebih parah. Oleh karena itu, penulis menawarkan berbagai solusi. Yang pertama adalah membicarakan dan mencari pertolongan. Hal ini dibuktikan oleh sebuah kajian Oxford pada tahun 2017 yang menyatakan bahwa pria lebih sulit dalam mengusir rasa sepi karena pria berbanding terbalik dengan wanita yang berupaya mengatasi kesepian dengan berbicara kepada teman mereka melalui telepon. Maka dari itu, berbicara dan meminta pertolongan kepada orang lain menjadi solusi yang bisa diharapkan.
Solusi yang kedua adalah dengan menyalurkan rasa kesepian kepada aktivitas positif. Seperti halnya survey yang dilakukan oleh BBC News Indonesia melalui akun Instagram pada tahun 2019, didapatkan berbagai solusi yang dituliskan oleh 400 orang yang merasa kesepian. Ada banyak kegiatan positif yang bisa dilakukan seperti membaca novel, berolahraga, menggeluti hobi, berkegiatan di alam, bahkan berdoa dan bermeditasi untuk membangun rasa syukur akan eksistensi diri dan orang di sekitar. Oleh karena itu, menjalankan kegiatan positif bisa menjadi alternatif pilihan untuk menyalurkan rasa loneliness. Tentu ada banyak solusi lain yang bisa dilakukan, namun, penulis merasa bahwa teman-teman yang merasa kesepian bisa mencoba dua solusi yang ditawarkan penulis terlebih dahulu. Jika dirasa loneliness justru membawa kearah negatif dan malah memperparah kesehatan mental, maka bisa pergi dan berkonsultasi dengan mental health professional.
Dapat disimpulkan bahwa generasi Z yang hidup di tengah perkembangan teknologi dan media sosial tak lepas dari dampak negatif yang menyertainya. Dampak tersebut dapat berupa tren fenomena loneliness akibat munculnya rasa terisolasi sebagai dampak dari kurangnya kualitas hubungan emosional melalui media sosial. Oleh karena itu, harus ada solusi untuk mencegah rasa kesepian ini memperparah kesehatan mental penderitanya. Jika merasa kesepian, kita bisa mencoba untuk berbicara dengan orang terdekat dan meminta pertolongan kepada mereka. Kita juga bisa mencoba melakukan berbagai kegiatan positif yang dapat membuat kita merasa tidak sendirian dan menikmati kehidupan kita. Namun, jika loneliness dirasa membebani kita, maka segeralah berkonsultasi dengan mental health professional. Ingat, don’t self diagnosed!!!
Daftar pustaka
Brown, J. (2018, Januari 16). Is social media bad for you? The evidence and the unknowns. Retrieved Oktober 1, 2020, from bbc.com: https://www.bbc.com/future/article/20180104-is-social-media-bad-for-you-the-evidence-and-the-unknowns
Irawan, A. D. (2019, Juli 22). Kesepian: Disrupsi Emosional yang Kian Banal. Retrieved Oktober 1, 2020, from medium.com: https://medium.com/@adfadilirawan/kesepian-sebuah-disrupsi-emosional-yang-kian-banal-f999b9090aaa
Unknown.(2019, Mei 18). Kesehatan mental: Bagaimana cara mengatasi kesepian? Retrieved Oktober 6, 2020, from bbc.com: https://www.bbc.com/indonesia/trensosial-48319048
Yudhaningrum, I. R. (2020). Gambaran Kesepian Pada Remaja Pelaku Self-harm. Jurnal Penelitian dan Pengukuran Psikologi, 15.
Komentar
Posting Komentar