Gerakan The (real) Pilah Sampah

Pernahkah kita mempertanyakan sebenarnya kemana sih sampah-sampah seperti bekas baterai jam, handphone, dan bahan-bahan kimia lainnya dibuang? Mayoritas pasti belum pernah memikirkannya karena yang biasa kita lakukan hanyalah membuang barang-barang seperti itu ke tempat sampah, setelah itu diambil oleh gerobak sampah, dibuang ke TPA, dan entah terbuang ke mana lagi. Nah, hal ini cukup memprihatinkan karena seharusnya kita menyadari bahaya dari membuang barang-barang yang mengandung zat-zat kimia berbahaya ini sembarangan tanpa dipilah terlebih dahulu.

Jika saya melihat sistem pembuangan sampah di lingkungan tempat tinggal saya, jujur saya merasa sistemnya masih sangat buruk dan kurang terorganisir. Setiap rumah akan mengumpulkan seluruh sampah sehari-harinya, tanpa dipilah, kemudian jika ada gerobak sampah datang, sampah akan dikeluarkan dari rumah masing-masing. Sebagai anak muda yang aktif dalam media sosial dan melihat perkembangan negara lain, saya mulai berpikir kok bisa sih kebiasaan memilah sampah masih kurang bisa diterapkan dalam masyarakat Indonesia. Jika melihat dari negara lain misalnya Jepang dan Korea, tiap rumah pasti memiliki tempat sampah dengan jenis sampah berbeda. Tentu saja tidak seharusnya saya membandingkan dengan negara lain, namun, tetap saja hal ini menjadi pertanyaan saya.

Berdasarkan survei oleh Katadara Insight Center yang dilakukan terhadap 354 responden di lima kota besar, sebanyak 50,8% rumah tangga tidak memilah sampah, sebanyak 79% di antaranya beralasan karena tidak ingin ribet memilah sampah, sebanyak 17% berpikiran bahwa pada akhirnya sampah akan tercampur di TPA, sebanyak 3% merasa pemilahan tidak bermanfaat, dan 1% memiliki alasan lain. Hal ini sangat memprihatinkan karena ternyata masih banyak masyarakat yang memiliki kesadaran yang kurang akan pemilahan sampah. Padahal kalau dipikir-pikir sampah rumah tangga inilah yang paling bervariasi jenisnya karena aktivitas sehari-hari seperti memasak, mengonsumsi makanan, mencuci, dan menggunakan alat elektronik lebih sering terjadi di lingkup rumah tangga. Selain itu, kurangnya pengetahuan akan jenis sampah berupa limbah B3 menjadikan masalah pemilahan ini lebih memprihatinkan lagi.

Limbah B3 (Bahan Beracun dan Berbahaya) merupakan jenis limbah yang mengandung bahan-bahan kimia dan mampu membahayakan lingkungan. Contoh dari limbah B3 ini adalah baterai bekas, pecahan kaca, bahan bekas medis, dan bahan-bahan berbahaya lainnya. Bahan-bahan ini harus dipisahkan dari jenis sampah lainnya untuk menghindari bahaya yang mungkin ditimbulkan. Namun, nyatanya masyarakat masih kurang menyadari bahaya dari limbah B3 ini.

Tanpa kita sadari, lingkungan mulai terancam dengan banyaknya limbah B3 yang tidak terkelola dengan baik. Bahan-bahan yang terkandung dalam limbah B3 ini mampu mencemari air dan tanah, kemudian membahayakan kesehatan manusia. Jika membicarakan dampak, limbah B3 ini memiliki dampak jangka panjang sehingga kurang disadari oleh masyarakat, jika dampaknya sudah mulai terasa dekat barulah masyarakat sadar dan kewalahan mengahadapinya. Oleh karena itu, kita harus mulai sadar dan peduli akan bahaya dari tidak terkelolanya limbah B3 ini.

Melihat permasalahan tersebut, saya memiliki gagasan untuk membuat suatu gerakan yaitu “Gerakan The (real) Pilah Sampah”. Kata “real” sendiri digunakan karena selama ini masyarakat masih kurang tahu bahwa pilah sampah yang bisa dikatakan ideal adalah ketika setidaknya sampah dipilah menjadi tiga jenis, yaitu organik, anorganik, dan B3. Selain itu, melalui gerakan ini masyarakat akan diajarkan cara memilah yang sebenarnya. Contohnya sebelum memilah, bahan-bahan yang bisa didaur ulang seperti botol harus dibersihkan terlebih dahulu. Selain itu, bagaimana cara memilah sampah yang mengandung B3. Oleh karena itu, gerakan ini dimaksudkan untuk mengedukasi, mensosialisasikan, dan mempraktikkan pilah sampah menjadi tiga jenis. Gerakan ini akan diterapkan mulai dari rumah ke rumah, mengingat sangat bervariasinya jenis limbah dalam rumah tangga.

Gerakan ini adalah gerakan yang kecil, namun, diharapkan dapat memberikan sumbangsih dalam pengelolaan sampah yang layak dan pemeliharaan lingkungan. Melalui gerakan ini juga, diharapkan sistem pengelolaan sampah, yang dimulai dari lingkungan tempat tinggal, bisa mendorong pemerintah untuk menyediakan fasilitas pengelolaan sampah yang layak sehingga bisa mendukung pemilahan sampah dan tidak serta merta tercampur atau menumpuk di TPA. Seperti yang kita ketahui, usaha masyarakat saja akan sulit tanpa bantuan fasilitas dari pemerintah.

            Berdasarkan pemaparan di atas, tentunya negara Indonesia masih sangat jauh untuk mencapai sistem pengelolaan sampah yang baik. Cara-cara pemilahan, pembuangan, dan pengelolaan sampah terkesan sangat ribet dan memerlukan biaya yang tak sedikit. Namun, saya rasa lebih baik ribet hari ini daripada ribet di masa mendatang ketika lingkungan sudah rusak dan tak layak ditinggali. Lingkungan sudah memberi banyak manfaat bagi kehidupan kita, sudah sepatutnya kita membalasnya dengan menjaga lingkungan dan menyediakan lingkungan yang layak bagi generasi penerus selanjutnya. Mari mulai dari memilah sampah di lingkungan tempat tinggal kita!

Daftar Pustaka
Nurcahyadi, G. (2019, November 7). Pengelolaan Sampah dari Rumah Belum Jadi Perhatian Rumah Tangga. mediaindonesia.com: https://m.mediaindonesia.com/read/detail/274212-pengelolaan-sampah-dari-rumah-belum-jadi-perhatian-rumah-tangga
Tim Riset dan Analisis Katadata. (2019, Desember 10). Kelola Sampah Mulai dari Rumah. katadata.co.id: https://katadata.co.id/timrisetdanpublikasi/analisisdata/5e9a57af981c1/kelola-sampah-mulai-dari-rumah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Fenomena loneliness di tengah Generasi Z