Proses Menemukan Mimpi & Mencintai Diri Sendiri
Proses Menemukan Mimpi & Mencintai Diri Sendiri
Nama saya Nora Silvana. Hanya seorang perempuan berusia 17 tahun yang baru saja memasuki kehidupan dewasa. Melepas status “siswa” saya menjadi seorang “mahasiswa” merupakan suatu kesempatan dan juga tanggung jawab. Banyak hal yang saya lalui untuk bisa berada di posisi ini. Banyak juga pertarungan yang saya lakukan dengan diri saya sendiri untuk lebih mengenal dan menyayangi diri saya sendiri. Kata “diri saya sendiri” yang awalnya asing menjadi mulai terbiasa di telinga saya. Menurut saya, mencintai diri sendiri adalah hal yang sangat sulit pada saat itu, namun, saya rasa sekarang saya mulai mencintai diri saya sendiri.
Saya tidak terlahir di keluarga yang kaya. Bahkan, kedua orangtua saya tidak pernah merasakan bangku kuliah. Oleh karena itu, orangtua saya selalu bermimpi agar anak-anaknya bisa membawa harkat keluarga melalui pendidikan. Kedua kakak saya telah berhasil memenuhi harapan itu. Mereka menduduki bangku kuliah di PTN “bernama”. Hal ini tentu menjadi beban bagi saya yang merupakan anak ketiga agar bisa meneruskan kakak-kakak saya berkuliah di PTN bereputasi baik.
Kembali pada masa SMA, saya tidak pernah mempunyai cita-cita. Bahkan, saya sempat membenci diri saya sendiri yang tidak berbakat. Orang-orang mulai mempertanyakan bagaimana bisa saya tidak berprestasi ketika kedua kakak saya berprestasi. Bagaimana bisa saya tidak mempunyai cita-cita ketika kedua kakak saya memiliki tujuan hidup dan masa depan yang terlihat cerah? Setiap hari saya berusaha menanggung ekspektasi yang orang taruh kepada saya. Hari-hari saya lalui dengan tatapan kosong. Tak henti-hentinya saya membandingkan diri saya dengan orang lain. Melihat bahwa kehidupan orang lain itu mulus, tidak seperti saya yang harus menanggung beban yang luar biasa.
Memasuki kelas 12, saya mulai mempertanyakan kemana selanjutnya saya akan melangkah. Saya kebingungan mencari jurusan apa yang sebaiknya saya ambil berdasarkan kemampuan saya. Namun apa daya, saya merasa saya tidak memiliki kemampuan apapun. Saya berada di kelas MIPA, tetapi saya tidak bisa fisika, kimia, dan matematika peminatan. Saya tidak suka memecahkan soal penuh dengan angka yang saya rasa tidak akan bermanfaat di kehidupan saya selanjutnya. Pertanyaan terus muncul di otak saya. Jurusan apa yang seharusnya saya ambil dan profesi apa yang harus saya jalani di masa depan?
Pencarian itu berlangsung cukup lama dan saya masih terus membandingkan diri saya dengan orang lain. Lihat, mereka sudah punya tujuan,masa kamu engga? Pertanyaan itu terus terngiang di otak saya membuat saya perlahan tertekan. Ada kalanya, ketika saya pulang ke rumah, saya menangis di kamar. Saya pun tidak tahu mengapa, tetapi rasanya sungguh sangat melelahkan. Hingga suatu hari, saya mulai mencari apa yang akhir-akhir ini saya minati. Saya melihat riwayat youtube saya dan menemukan banyak video berkaitan dengan mental health issues yang belakangan ini saya tonton. Ketertarikan saya dengan mental health issues semakin besar. Saya mulai mencari jurusan dan profesi apa yang bisa membuat saya berkecimpung di dunia kesehatan mental. Dan saat itulah saya menemukan jurusan psikologi dan profesi psikolog. Saya mulai berani untuk menaruh mimpi dan harapan saya untuk menjadi seorang psikolog.
Saya sudah bilang di atas bahwa saya tidak memiliki bakat, namun, akhirnya saya menemukan bakat saya ketika memilih profesi psikolog sebagai cita-cita saya. Yang pertama adalah saya lebih suka mendengarkan orang lain ketimbang saya yang bercerita. Hal ini membuat saya semakin termotivasi menjadi psikolog karena seorang psikolog harus berusaha menjadi pendengar yang baik. Yang kedua adalah saya sulit memberikan saran terhadap curhatan teman saya. Dulu saya sempat ragu untuk mengambil psikologi karena yang satu ini. Saya merasa kalau ingin masuk psikologi harus bisa memberikan solusi atas permasalahan orang lain. Namun ternyata itu tidak benar, karena sejatinya seorang psikolog tidak boleh langsung memberikan saran terhadap permasalahan pasiennya, tetapi seorang psikolog harus membantu pasiennya untuk mengenal dirinya sendiri agar dapat memecahkan permasalahannya. Masih banyak hal-hal yang awalnya saya benci dalam diri saya yang pada akhirnya saya cintai dan syukuri bahwa hal tersebut ada di dalam diri saya. Hal-hal tersebut yang melengkapi dan membentuk diri saya. Saya menjadi mencintai diri saya terlepas dari apa yang dikatakan orang sebagai kekurangan.
Perjalanan menemukan jati diri, proses penerimaan diri, dan proses mencintai diri sendiri tidaklah mudah. Namun, saya yakin setiap orang pasti memiliki kelebihan dan kekurangan dalam diri mereka. Bahkan, saya sudah merasakan, di mana hal yang saya anggap sebagai kekurangan ternyata bisa menjadi kelebihan ketika saya menemukan lingkungan yang tepat. Saya yakin semua orang memiliki lingkungan positif yang tepat bagi mereka. Di mana mereka bisa menemukan jati dirinya dan mencintai dirinya unlimited.
Komentar
Posting Komentar